Saat kita dapet kado dari temen, biasanya nggak ada prasangka buruk dengan isinya. Walau bungkusannya terkesan kucel, asal-asalan, bahkan terkategori norak, kita tetep pengen tahu dalemannya. Kalopun ternyata nggak seperti yang diharapkan, kita tetep bilang makasih dan akan mencari sisi positif isi kado itu. Kita yakin dan percaya kalo sang teman nggak asal-asalan ngasih kado ke kita. Pasti ada gunanya. Nggak sekarang, mungkin nanti.
Teman, sohib, atau sahabat, adalah ’kado’ yang Allah berikan untuk kita. Kado itu bisa datang dengan penampilan luar yang nggak nyaman dilihat. Dandanannya asal pake, perilakunya urakan, ngomongnya juga asal bunyi. Kado itu juga bisa datang dengan penampilan luar yang eye catching. Dandanannya rapi jali, cara bicaranya sopan, dan lebih bisa jaga diri. Kalo udah gini, gampangnya kita suka menilai isi ’kado’ itu dari penampilan luarnya.
Padahal kita belum tau daleman masing-masing kado itu. Kalo kita bisa positif thiniking dengan kado dari teman, nggak ada salahnya melakukan hal yang sama terhadap ’kado’ dari Allah. Nggak merasa risih dengan bungkusnya, berusaha mengenali isinya, dan pantang menyerah mencari sisi baiknya. Setiap teman pasti punya kelebihan dan kekurangan. Nggak ada yang sempurna atau yang cacat semuanya. Kado-kado itu Allah berikan untuk menutupi kekurangan diri kita.
Karena itu, bersyukurlah karena kita masih punya teman dan masih ada yang mau berteman dengan kita. Buka mata dan hati kita untuk berteman dengan siap aja. Dan buka pikiran kita ketika pengaruh teman ngasih dampak buruk pada diri kita. Sebab teman yang baik akan mengajak kita untuk taat, bukan bermaksiat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar